Kader Senior  PDIP: Hati Kader ke Akhyar, Jangan Paksakan Bobby  

EKSISNEWS.COM, Medan –  Kader senior PDIP Drs Berman Sinaga (74) salah satu penandatangan deklarasi fusi PDI di Kota Medan 10 Januari 1973, meminta seluruh kader solid dan bergerak militan mendukung pencalonan Akhyar Nasution Medan 1.

Mantan anggota DPRD Medan dan Ketua KPU (PPD= Panitia Pemilihan Daerah)  Medan ini pun berharap DPP utamanya Ibu Mega untuk tidak ragu merekomendasikan dukungan partai ke Akhyar bukan ke Bobby.

“Akhyar kader tulen. Darah marhaenis dan nasionalis ada dalam jiwa raganya,  tertempa oleh waktu.  Dari ayahnya Anwar Nasution,  seorang tukang jahit keliling, teman saya seorang kader PNI.

Akhyar itu orang polos,  jujur, sederhana,  pekerja keras.  Dia itu tidak punya bakat mementingkan diri sendiri atau kelompoknya. Orang seperti ini tidak akan korup, ” tegasnya kepada wartawan.

Berman Sinaga mengaku ingat betul bagaimana Akhyar itu ditempa dalam kesulitan ekonomi saat kuliah.  Pergi ke kampus USU naik sepeda setiap hari.

Di pandangannya Akhyar Nasution itu adalah wong cilik yang hingga menjadi anggota DPRD Medan bahkan kini Plt Walikota kehidupannya tetap setia di garis wong cilik.

Ia sangat aktif dalam pergerakan GMNI. Kemudian menjadi kader PDI,  PDI Pro Mega dan PDIP mulai pengurus anak ranting , Ketua PAC Medan Deli hingga kini setia di PDIP sebagai salah satu Wakil Ketua DPD PDIP Sumut.

Saat Pileg 1999, Berman Sinaga yang saat itu Ketua PPD (Panitia Pemilihan Daerah) Kota Medan mengingat perolehan suara Akhyar tertinggi mendekati 30.000 suara.

Soal pencalonan Bobby Nasution,  Berman Sinaga menertawakan hal itu.  “Hahaha… Orang Medan ini dikenal tidak suka karya kata tapi karya nyata. Yang jelas sajalah,  apa sih modal Bobby yang bisa kita harapkan untuk membangun Medan ini?

Tidak bisa hanya bermodal ia seorang  menantu presiden. Maaf ya,  jika ia tidak memperistri putri presiden,  apa ada yang mengenalnya? Apa ada partai yang mau mengusungnya? ” tanya Berman.

Malah menurutnya resistensi kader terhadap pencalonan Bobby di Medan semakin hari semakin tinggi. Ia meminta kolega Bobby tidak memaksakan pencalonan dari PDIP.

Politisi senior yang pernah menjadi Sekretaris Badan Litbang DPD PDIP Sumut dengan Ketuanya saat itu Yassona Laoly menegaskan dirinya tidak ingin menghalangi Bobby terjun ke dunia politik, adalah hak Bobby ikut sebagai calon Kdh  dan secara peraturan ia diperbolehkan .

Namun Berman melihat ada ambisi para koleganya di belakang pencalonan Bobby. “Sangat bagus ya kalau Bobby terjun ke politik.  Tetapi tidaklah langsung jadi walikota. Ia masih terlalu muda,  baru saja kawin dan punya anak. Belum memiliki pengalaman yang cukup.

Di sisi lain, para kolega Bobby yang sangat bernafsu mendorongnya menjadi calon walikota harus melihat fakta politik saat ini bahwa ada kader PDIP yang tengah memimpin Kota Medan .

Jangan perhadapkan Bobby dengan kader PDIP.  Tolong lihat dinamika di internal PDIP,  meski semua menyatakan siap menerima keputusan Ibu Mega tetapi di hati kecil mereka yang terdalam para kader hatinya ke Akhyar ,” tegasnya.(ENC-2)

Comments are closed.