Pelatihan Strategi Komunikasi dan Toolkit M4CR Sumut Resmi Dibuka, Aditya Sebut 4 Pilar Utama Jadi Fondasi Program M4CR

EKSISNEWS.COM, Medan — Aditya Wahyu Putra S Hut selaku Manajer PPIU Sumatera Utara (Sumut) menyebutkan ada 4 (empat) pilar utama yang menjadi fondasi program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR), yakni rehabilitasi ekosistem, penguatan kelembagaan, dimensi sosial masyarakat, dan manajemen yang efektif.

Keempat pilar ini, menurutnya, tidak dapat berjalan secara terpisah, melainkan harus saling menopang dalam satu kerangka komunikasi yang komprehensif.

Pada sesi pemaparan hasil Scoping Research, Aditya menyajikan data yang menggambarkan potret mangrove Sumut secara komprehensif.

Dari total potensi mangrove seluas kurang lebih 57.000 hektare, sekitar 10.000 hektare di antaranya mengalami degradasi akibat alih fungsi lahan menjadi tambak dan perkebunan kelapa sawit, dengan tingkat kerusakan mencapai 50–60 persen.

Versi akademisi mencatat angka yang lebih besar, yakni sekitar 76.000 hektare total tutupan mangrove, di mana 870 hektare hilang akibat illegal logging. Di sisi lain, terdapat kabar baik: sekitar 15.000 hektare kawasan konservasi menunjukkan tanda-tanda pemulihan berkat upaya rehabilitasi yang telah berjalan.

“Dari data ini, kita dapat menyimpulkan bahwa tantangan perluasan mangrove saat ini bukan semata-mata soal penanaman, melainkan pemeliharaan dan keberlanjutan. Kita harus menutup kesenjangan koordinasi, mewariskan program dengan memperkuat peran Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD), serta mengurangi ketergantungan pada figur-figur kunci,” tegas Aditya, Rabu (7/10/2026) usai pembukaan resmi Pelatihan Strategi Komunikasi dan Penggunaan Media/Toolkit program M4CR Sub-Nasional Sumut, di Hotel Cambridge, Medan.

Kegiatan yang diinisiasi oleh SPEAK Indonesia bersama Project Implementation Unit (PIU) Kementerian Kehutanan ini mempertemukan lebih dari 30 perwakilan pemangku kepentingan lintas sektor, mulai dari unsur pemerintah daerah, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, hingga kelompok masyarakat pesisir yang selama ini menjadi garda terdepan dalam menjaga ekosistem mangrove.

Selain itu, Aditya kemudian menggaungkan tagline yang menjadi semangat kolektif pelatihan ini: “Mangrove Kita Jaga, Manfaat Kita Rasakan, dan Lestari Kita Wariskan.”

Lebih lanjut, dari ruang virtual, Oding Affandi, akademisi dari Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU), memberikan perspektif kritis mengenai masa depan rehabilitasi mangrove pasca-berakhirnya program M4CR.

Menurutnya, pelatihan komunikasi dan kepemimpinan yang diselenggarakan SPEAK bersama PPIU Sumut merupakan langkah strategis untuk memastikan bahwa capaian program tidak berhenti ketika pendanaan eksternal berakhir.

“KKMD harus mampu melanjutkan rehabilitasi mangrove secara mandiri. Ke depan, diperlukan pula pelatihan-pelatihan lanjutan seperti digitalisasi, sistem informasi akuntansi, dan penguatan kapasitas kepemimpinan bagi kelompok penerima manfaat,” ujar Oding.

Salah satu sesi yang paling menyentuh pada hari pertama adalah pelatihan prinsip dasar komunikasi dan teknis fasilitasi di tingkat komunitas yang dibawakan oleh Meilinda Suriani Harefa, Founder & Executive Director Yayasan Konservasi Pesisir Indonesia (YAKOPI).

Meilinda menekankan bahwa komunikasi yang efektif di tingkat tapak bukan sekadar soal penyampaian pesan, melainkan kemampuan mendengarkan, memahami konteks lokal, dan membangun kepercayaan bersama masyarakat.

Semangat tersebut terkonfirmasi dalam sesi sharing session, ketika Zuwandi Tanjung, Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Bahagia Giat Bersama, membagikan pengalamannya membangun kelompok dari nol melalui komunikasi yang kuat dan konsisten. Namun, cerita yang paling menggugah adalah perannya dalam menyelamatkan lahan mangrove di Desa Simandulang dari ancaman pelepasan kawasan melalui program TORA (Tanah Objek Reforma Agraria).

“Di daerah saya ada program TORA. Kalau yang tidak paham, pelepasan status kawasan hutan bisa mengubah peruntukan lahan secara drastis karena masuk peta indikatif TORA. Di Simandulang, pelepasan itu menyasar hutan mangrove yang merupakan penanaman program pemerintah dari tahun 2019 sampai dengan tahun 2026 oleh BPDAS, BRGM dan M4CR. Kalau dilepaskan, banyak lahan mangrove akan hilang,” tutur Zuwandi.

Beruntung, sebagai Sekretaris Desa Simandulang, ia langsung terlibat dalam penyusunan rancangan program TORA sehingga mampu mengantisipasi dan menyelamatkan lahan mangrove di wilayahnya. Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa literasi kebijakan dan keberanian bersuara dari tingkat desa dapat menjadi benteng pertahanan terakhir bagi ekosistem pesisir.

Pengenalan Toolkit Komunikasi Berbasis Kearifan Lokal

Menutup rangkaian hari pertama, Juliarti Sianturi, staf media SPEAK Sub-Nasional Sumatera Utara, memperkenalkan berbagai toolkit dan materi komunikasi yang telah dikembangkan secara partisipatif.

Perangkat-perangkat ini dirancang untuk dapat diadaptasi sesuai kebutuhan dan kearifan lokal di masing-masing wilayah sasaran, sehingga pesan-pesan konservasi tidak terasa asing, melainkan tumbuh dari dalam komunitas itu sendiri.

Pelatihan hari pertama ini menegaskan satu hal penting: keberhasilan rehabilitasi mangrove di Sumut tidak ditentukan oleh kecanggihan kanal digital semata, melainkan oleh kemampuan komunikasi yang menjembatani kepentingan ekologis, ekonomi tambak, status lahan, dan keberlanjutan jangka panjang. Ketika data bertemu dengan cerita manusia, dan ketika kebijakan bertemu dengan kearifan lokal, di situlah komunikasi menemukan makna sesungguhnya.

Kegiatan pelatihan akan berlanjut pada hari kedua, Kamis, 8 Oktober 2026, dengan agenda praktik penggunaan panduan komunikasi berbasis komunitas, panduan keterlibatan media, komunikasi krisis, serta penyusunan rencana tindak lanjut.(ENC-2).

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.