BKKBN SUMUT Gelar Webinar 100 PROFESOR Bicara Stunting Tingkat Provinsi Sumatera Utara
EKSISNEWS.COM,Medan – Masih dalam rangkaian peringatan hari keluarga nasional ke 28 yang jatuh pada tanggal 29 Juni 2021 lalu, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menggelar webinar 100 profesor berbicara stunting secara nasional dan maraton bersama Assosiasi Professor Indonesia di seluruh perwakilan Provinsi selama 3 hari dimulai tanggal 5-8 juli 2021.
Melalui zoom meeting dan live youtube BKKBN Perwakilan Sumatera Utara, Rabu (7/7) lalu bersama tiga narasumber yaitu Prof. Drs. Heru Santosa, M.S, Ph.D , Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd dan Prof. Dr. Ir. Albiner Siagian, dengan tema “Langkah awal pencegahan dan penurunan stunting di masyarakat” tingkat provinsi Sumatera Utara.
Dalam webinar ini, peserta ditargetkan sebesar 300 orang yang terdiri dari masyarakat umum, mahasiswa, SDM aparatur dan tenaga pengelola program bangga kencana di tingkat kab/kota.
Diawali dengan laporan dari ketua penyelenggara webinar yaitu koordinator bidang pelatihan dan pengembangan BKKBN Perwakilan Sumatera Utara, Dra. Tengku Lafalinda, dalam laporannya, mengharapkan webinar kali ini dapat memberikan tambahan wawasan dan pengetahuan bagi kita terkait dengan stunting.
“Saya berharap kegiatan ini menjadi tambahan pengetahuan bagi kita pada seluruh lini masyarakat sehingga kita dapat mengerti secara utuh apa itu stunting dan bagaimana rangkaian pencegahan dan penurunannya sehingga dapat diaplikasikan oleh masyarakat utamanya pada level keluarga”, harap Lafalinda.
Kepala BKKBN RI, Dr. (HC), dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) juga berkesempatan hadir untuk menyampaikan arahannya bahwa saat ini pemuda merupakan sasaran dan tujuan utama pemerintah dalam pencegahan stunting.
Hasto berharap pemerintah dan seluruh lini masyarakat bekerjasama dalam menyiapkan betul tenaga muda Indonesia yang berkualitas berdaya saing yang mempunyai peranan penting dalam menciptakan keluarga yang sejahtera.
“ Tugas kita saat ini adalah menyiapkan betul tenaga muda yang berkualitas berdaya saing karena kalau tidak, maka bonus demografi akan lewat begitu saja tanpa kita bisa memetik atau mentranformasikannya, ujar Hasto.
Ditambahkan, saat ini yang mempunyai peranan penting dalam kesejahteraan adalah mereka yang muda. Mereka yang akan menjadi pasangan hidup baru dan melahirkan generasi baru, mereka itu bisa menjadi penentu tidak menikah pada usia muda, tidak putus sekolah kemudian kehamilan tidak terlalu banyak dan tidak berulang-ulang sehingga juga dapat bekerja dengan baik dan tidak penggangguran.
Ini lah menjadi tujuan utama kita untuk menciptakan keluarga yang bebas stunting”ucap Hasto.
Kepala BKKBN itu berharap nantinya kajian itu menjadi referensi yang baik untuk membuat suatu kebijakan. Saya yakin bahwa ketika pemerintah dalam hal ini BKKBN dapat mengambil Langkah-Langkah untuk membuat kebijakan yang tepat dengan berbagai pertimbangan.
Tantangan penurunan stunting menuju 14% di tahun 2024 sungguh luar biasa besar, semoga dengan usaha professor kita diberikan kemudahan dalam membantu menciptakan generasi yang bermutu untuk Indonesia maju, urainya.
Lebih lanjut, Deputi Lalitbang BKKBN RI, Prof. drh. M. Rizal Martua Damanik, M.RepSc, Ph.D juga memberikan arahan dan penjelasan terkait stunting. Stunting saat ini merupakan ancaman terhadap kualitas sumber daya manusia, Indonesia masih punya pekerjaan rumah mendasar dalam peningkatan kualtas SDM. Data Riskesdas menunjukkan satu dari tiga anak indonesia mengalami stunting dan saat ini sudah dipetakan wilayah yang angka prevalensi stunting yang tinggi yaitu di sektiar 6600-an desa yang tersebar di 360 kabupaten/kota.
Secara garis besar intervensi yang disiapkan dalam upaya percepatan penurunaan stunting dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu fase calon pasangan usia subur yang memiliki peran strategis untuk memastikan kondisi calon pengantin berada dalam kondisi ideal untuk menikah dan hamil (fase pranikah), fase hamil dan fase pasca salin, beber Damanik.
“Upaya untuk menurunkan angka stunting harus dilakukan secara timbal balik, yaitu melalui hubungan secara vertical maupun horizontal dengan pemerintah dan masyarakat. Derajat penurunan angka stunting dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu, lingkungan yang sehat, pendiidkan dan kerjaan serta perilaku hidup sehat juga pelayanan Kesehatan, tambah Rizal.
“Harapannya, webinar 100 profesor bicara stunting ini dapat menambah informasi dan pengetahuan bagi keluarga di Indonesia terutama dlam upaya pencegahan stunting di Indonesia, tutup Rizal lagi.
Webinar 100 professor bicara stunting ini dibuka oleh plt Kaper BKKBN Sumut, Dra Rabiatun Adawiyah.
Rabiatun berujar, kegiatan ini dapat memberikan tambahan wawasan bagi kita dan seluruh keluarga Indonesia terkait dengan stunting.
“Saya mengapresiasi dan mengucapkan terimakasih atas komitmen dan partisipasi kepada seluruh pihak yang mensukseskan kegiatan ini semoga apa yang akan kita kerjakan ini dapat diberikan kemudahan oleh Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa serta dapat memberikan manfaat yang sebanyak-banyak nya bagi program bangga kencana.
Diketahui bahwa masalah stunting saat ini menjadi perhatian penting bagi pemerintah Indonesia dan hal ini menunjukkan bahwa stunting perlu ditangani segera. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 100 Hari Pertama Kehamilan (HPK). Pada bayi stunting akan tampak di bawah 5 tahun atau diumur 2 tahun yang tampak pada tinggi badan anak tidak sesuai dengan umur nya serta mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak.
Stunting juga akan berdampak pada tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit, menurunkan produktivitas, menghambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kemiskinan serta kesenjangan.
Prevelansi stunting selama 10 tahun terakhir menunjukkan tidak adanya perubahan yang signifikan. Penurunan stunting memerlukan intervensi yang terpadu mencakup intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif dalam upaya percepatan penurunan stunting. Pemerintah dalam hal ini, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo telah memberikan amanah kepada BKKBN sebagai ketua pelaksana program percepatan penurunan stunting pada tanggal 25 Januari 2021 lalu.
BKKBN bersama dengan Kementerian dan lembaga terkait lainnya melakukan upaya percepatan penuruan stunting di Indonesia.
Berbagai hal sudah dipersiapkan dalam merespon mandat tersebut meliputi draft tentang peraturan Presiden Republik Indonesia. Kemudian rencana aksi nasional serta perangkat pendukung dalam implemetasinya.
Berbicara mengenai stunting saat ini prevalensi stunting di Indonesia masih cukup tinggi yaitu 27.67 pada tahun 2020. Amanat Presiden Republik Indonesia dalam rapat kabinet terbatas pada akhir bulan Januari lalu adalah memberikan mandat sebagi ketua pelaksanan program percepatan penurunan stunting dengan target stunting 14% ditahun 2024 nanti. Kepercayaan ini menjadi hal yang tidak mudah diwujudkan tetapi harus tetap optimis dilakukan.
Saat ini indonesia masuk negara prevalensi stunting kelima terbesar di dunia termasuk beberapa masalah gizi lain mencakup wasting (kurus), anemia pada remaja dan ibu hamil, kelebihan gizi (obesitas) ada balita dan orang dewasa. (ENC/Wyu)
Comments are closed.