PD Pasar Harusnya Jadi Alternatif Dulang PAD bagi Pemko Medan

EKSISNEWS.COM, Medan – Ditengah pandemi Covid-19 sampai saat ini, Pemerintah Kota (Pemko) Medan seharusnya  dapat  menggunakan alternatif lain, terutama dalam mendulang pendapatan asli daerah (PAD). Satu diantaranya, melalui BUMD Perusahaan Daerah (PD) Pasar.

“Alternatif PAD yang harusnya dapat memberikan kontribusi ditengah pandemi ini menurut kami bisa diperoleh dari PD Pasar. Pasar Tradisional tidak banyak berpengaruh dimasa pandemi ini. Namun ternyata di laporan keuangan Medan, tahun 2020 PD Pasar tidak memberikan kontribusinya untuk menambah PAD,” ujar  Wakil Ketua Fraksi DPRD Kota Medan, Parlindungan Sipahutar saat membacakan pemandangan umum fraksi terhadap nota pengantar kepala daerah atas Ranperda tentang Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) pelaksanaan APBD Kota Medan TA 2020, Senin (14/6/2021) dalam rapat paripurna DPRD Kota Medan.

Selain itu, alternatif PAD lainnya kata Parlindungan ialah melalui Badan Layanan Umum Daerah (BULD) seperti RS Pirngadi. Dijelaskannya, pendapatan BULD diprediksi sebesar Rp 206 miliar.

“Hal ini juga kami nilai, seharusnya tercapai sesuao yang direalisasikan atau bahkan lebih namun hanya  terealisasi sebesar Rp 90 miliar. Kami menilai bahwa krisis kesehatan membuat masyarakat Medan tahun 2020 membutuhkan lahanan kesehatan tiap hati. Sehingga wajar kalau pendapatan dari BLUD seharusnya sesuai dengan yang diproyeksikan,” jelasnya.

Sebelumnya, disampaikan Parlindungan dari Fraksi Demokrat bahwa Keberhasilan Pemko Medan memperoleh Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) tahun anggaran 2020 dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI diapresiasi. Apresiasi itu berikan Fraksi Partai Demokrat DPRD Medan melihat kinerja Pemko Medan di tahun 2020.

Namun, kendati mendapatkan opini WTP, dalam pandangannya, masih ada beberapa hal yang perlu diperbaiki. Salah satunya dari sektor pendapatan asli daerah (PAD).

Menurut Parlindungan, dari laporan keuangan Pemko Medan tahun 2020, pendapatan daerah diproyeksikan sebesar Rp 4,75 triliun lebih. Namun, yang terealisasikan hanya Rp 4,12 triliun lebih atau 86,63 persen.

Jika dibandingkan dengan realisasi pendapatan tahun 2019, sebesar Rp 5,51 triliun lebih, maka terjadi penurunan sebesar 33,33 persen.

“Namun kami maklum penurunan itu karena kondiri krisis kesehatan yang membuat perekonomian di Medan melambat,” kataya.(ENC-2)

 

Comments are closed.