PT NSHE Sebut 9600 Ha Areal Tergenang PLTA Batang Toru Terlalu Luas
MEDAN, Eksisnews.com – Senior Advisor Lingungan PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE), Dr Agus Djoko Ismanto PhD menepis terhadap sejumlah anggapan terhadap areal yang tergenang untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru di Tapanuli Selatan (Tapsel) mencapai 9600 hektar (Ha) luasnya.
“Saya pernah baca di media itu dikatakan PLTA Batang Toru akan menengelamkan seluas 9600 Ha, dan itu disebarkan dimana-mana, bahkan keseluruh dunia. Nah, kita lihat kenyataannya meskipun kapasitas 510 MW, sebenarnya areal yang tergenang hanya 90 hektar , tentu implikasinya berbeda sekali antara 9600 Ha dengan 90 Ha tak bisa dibandingkan. Jadi, sekaligus saya klarifikasi bahwa areal yang tergenang itu hanya 90 hektar,” kata Adji dalam acara media briefing di Hotel Arya Duta Medan, Jumat (22/2/2019).
Diungkapnya, dari 90 Ha areal yang tergenang tersebut, adalah terdiri dari 24 Ha merupakan badan sungai (Batang Toru), dan 66 Ha lainnya yang tenggelam adalah tebing-tebing jurang.
“Yang terpenting juga di proyek ini, tak ada pemukiman yang dipindahkan, kosong, dikarenakan topografinya kita akui sangat berat, jadi nggak mungkin ada pemukiman,” sebutnya sembari menekankan terhadap jumlah air yang dihasilan mencapai 15 juta kubik.
Lebih lanjut, Adji menjelaskan, kehadiran PLTA Batang Toru berbiaya 1,6 Miliar USD yang saat ini masih dalam tahap menyiapkan fasilitas pekerjaan, belum kepada pekerjaan utama, diharapkan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat minimum hingga 30 tahun (BOT) kedepan bahkan lebih.
Karena, sebagai kawasan pembangunan PLTA Batang Toru berstatus APL, bukan hutan primer itu dapat dilihat dari vegetasi yang tumbuh dilokasi didominasi pohon karet dan jenis –jenis pohon perkebunan lainnya.
“Walaupun ada di APL, kami sangat menyadari kelestarian kawasan Batang Toru adalah elemen penting karena proyek ini memiliki ketergantungan pada keteraturan suplay air dari alam,” ujarnya.
Menurutnya, PLTA Batang Toru berkomitmen untuk menjadi market leader pembangkit tenaga air. Sejak masa persiapan dan pelaksanaan pembangunan, PLTA Batang Toru mengadopsi dan menerapkan standar-standar nasional dan interasional.
“Selain memenuhi AMDL, kami telah melaksanakan kajian Environmental and Social Impact Assessment (ESIA) yang menjadikan kami PLTA pertama di Indonesia yang melaksanakan Equatorial Principle,” pungkasnya . Jadi dalam hal ini penanganan lingkungan termasuk satwa liar seperti orang utan disekitar ke wilayah pembangunan PLTA mengacu juga pada standar ESIA tersebut.(ENC-2)
Comments are closed.