KMSM Sumut Sayangkan Pernyataan Gubernur Terkait Lapangan Merdeka

EKSISNEWS.COM, Medan – Koalisi Masyarakat Sipil Medan (KMSM) Sumatera Utara (Sumut) Lapangan Merdeka Medan sangat menyayangkan pernyataan Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi, yang hanya mendukung Lapangan Merdeka untuk benar-benar merdeka atau kembali pada fungsinya sebagai situs cagar budaya.

“Statemennya (Gubsu) mendukung itu, kita sangat menyayangkan. Karena sesungguhnya itu, gubernur dan walikota adalah eksekutor. Justru masyarakat dan pemangku kepentingan lainlah yang meminta dukungan dari pimpinan (daerah) terhadap kebijakan maupun program yang disusun dalam RPJMD-nya dia,” kata Koordinator KMSM Sumut, Miduk Hutabarat menjawab wartawan, Rabu (7/7/2021).

Sampai saat ini, ungkapnya, pihaknya terus memperjuangkan kemerdekaan Lapangan Merdeka Medan sebagai salah satu situs cagar budaya yang ada di Kota Medan dan Sumut. Proses tersebut disebutnya, pada pekan depan akan dibacakan putusan atas gugatan warga negara kepada Wali Kota Medan terhadap kemerdekaan Lapangan Merdeka Medan.

“Nah, setelah kita membaca pernyataan Bang Edy, di mana dia menceritakan pernah Danyon, pernah Irup dan sebagainya, itu apa poinnya? Bahkan padahal, sejak dia Pangdam I/Bukit Barisan pun, dia menginginkan Lapangan Merdeka itu jangan diganggu. Sejak dia dilantik (jadi Gubsu) di sidang paripurna, dia juga sudah buat pernyataan bahwa Lapangan Merdeka akan dikembalikan jadi ruang terbuka publik,” ungkapnya.

Lebih lanjut, aktivis lingkungan hidup ini menambahkan, bahkan di saat Edy Rahmayadi menjadi inspektur upacara saat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia sebagai Gubsu, telah menyatakan bahwa Lapangan Merdeka Medan memang harus merdeka.

“Setelah sejak 2020 kemarin kita mau menggugat Lapangan Merdeka, dan tanggal 14 Juli mendatang akan diputuskan, okelah pernyataan Gubsu tersebut tetap positif untuk didengar majelis hakim. Namun tindakan beliau yang mau menata kota dan membangun desa, sampai hari ini itu mana? Padahal menata kota itulah dalam pandangan publik, mungkin salah satunya soal Lapangan Merdeka,” terang Miduk.

Apalagi, ungkap dia, dalam RPJMD Sumut yang telah dituangkan Gubsu Edy selama memimpin wilayah ini, Lapangan Merdeka Medan masuk sebagai prioritas yang akan dibereskan sebagai warisan budaya.

“Lapangan Merdeka itu malah nomor satu, lalu ada gedung nasional yang sejak 2012 sudah terlunta-lunta nasibnya. Hancur tak karuan, berfungsi juga enggak. Poin terakhir kami adalah, ini indikasi bahwa orang di Pemprovsu yang harusnya mendukung pak gubernur, sepertinya publik melihat (para pejabat Pemprovsu) tidak mendukung beliau. Kenapa dia sudah berulang kali bilang akan mengembalikan, tetapi eksekusi tidak ada?” tegasnya.

Seharusnya pula, imbuh Miduk, dari apa yang telah disusun Gubsu dalam RPJMD-nya tersebut, yakni salah satu poinnya mengembalikan Lapangan Merdeka Medan sebagai situs cagar budaya, sampai sekarang tidak ada langkah eksekusi dilakukan pejabat Pemprovsu terkait.

“Apalagi mengingat ini tahun ketiga kepemimpinan beliau. Pada poin itulah koalisi tetap bertahan, bahwa (alasan tidak ada eksekusi ini) lantaran kontrak Merdeka Walk belum habis, minta masyarakat tetap mematuhi kontrak, lalu bilang di situ ada soal PAD kota, jadi sangat bertentangan dengan aturan Undang-undang dan pendapat para ahli yang menyatakan, ratusan bangunan di sekitar (Lapangan Merdeka) sudah indikasi dia sebagai cagar budaya. Tapi kenapa tidak ditetapkan juga oleh walikota. Harapan kami ini perlu dikonfirmasi juga ke walikota,” pungkasnya.

Gubsu Edy Rahmayadi sebelumnya kembali buka suara soal Lapangan Merdeka Medan. Ia bahkan menegaskan Lapangan Merdeka tidak boleh diganggu. Selain itu, ia juga mendukung agar Lapangan Merdeka kembali ke fungsi awal. “Oh harus jadi cagar budaya,” tugasnya menjawab wartawan, Senin (5/7/2021).

Ia bukan tak beralasan menyampaikan dukungan tersebut. Sebab dari dulu Lapangan Merdeka, sudah digaungkan salam pekik merdeka. Itu menandakan Lapangan Merdeka bagian dari sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.

“Dari dulu pekik merdeka. Itu diawali kalau tak salah tahun 1942. Pekik merdeka, itulah makanya jadi Lapangan Merdeka,” ungkap mantan Pangkostrad itu.

Dan dirinya sendiri, tidak bisa terlepas dari Lapangan Merdeka. “Dari mulai aku TK, main di Lapangan Merdeka. SD main di Lapangan Merdeka, SMP aku di Lapangan Merdeka, SMA ngerek bendera aku di Lapangan Merdeka,” tutur Edy.

Bahkan tidak hanya itu, sampai menjadi gubernur Sumut pun, juga tak terlepas dari Lapangan Merdeka. “DanYon aku Dan Up di Lapangan Merdeka, Gubernur, Irup di Lapangan Merdeka. Jadi tak boleh ganggu Lapangan Merdeka,” pungkasnya seraya menegaskan dukungannya agar Lapangan Merdeka menjadi situs cagar budaya.(ENC-2)

Comments are closed.