Desainer : Penenun Terus Berjuang Ciptakan Ulos Berkualitas dan Aneka Desain agar Dipakai Orang

EKSISNEWS.COM – Desainer sekaligus pegiat kain ulos Torang Sitorus menilai bahwa para perajin kain ulos di daerah sudah makin berkembang dan menawarkan beragam inovasi menarik.

Menurutnya, para perajin sudah semakin terbuka dengan perkembangan zaman. Penenun terus berjuang untuk menciptakan kain yang berkualitas dan aneka desain agar bisa dipakai oleh orang-orang di luar suku Batak dan cocok dikenakan semua kalangan usia.

Warnanya pun sudah mulai menggunakan warna-warna pastel atau warna alam. Guna memudahkan pembelinya, penenun juga menawarkan berbagai harga mulai Rp1 juta hingga di atas Rp20 juta tergantung tingkat kesulitan hingga desain yang dibuat.

“Kalau saya lihat ya secara itu banyak booth-booth yang menjual ulos. Itu tanda bahwa industri itu menggeliat di daerah. Penenun-penenun sudah berinovasi,” kata Torang dalam temu media dalam temu media di Indonesia Fashion Week (IFW) 2026 di Jakarta, Minggu.

Kemudian dari industri, dia menyebut jumlah perajin kian bertambah meski tidak menyebutkan angka pastinya. Setelah di tahun 1980-an para penenun sempat hampir menghilang.”Di tahun 80-an ulos ada perubahan yang cukup drastis sekali ya, dimana modernisasi mulai dikembangkan, industrialisasi mulai menggeliat, itu membunuh saudara-saudara penenun di daerah,” katanya

Hal lain yang Torang sampaikan yakni diangkatnya kain ulos ke penyelenggaraan fesyen IFW 2026 membuktikan perjuangan panjang seluruh industri ulos untuk memperkenalkan kain tersebut ke mata dunia.​​​​​​

Torang sendiri melakukan kolaborasi bersama Ketua Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) sekaligus Presiden IFW Poppy Dharsono untuk menghadirkan karya apik yang melibatkan pemakaian kain ulos.

Memasuki penyelenggaraan ke-14 ajang tahunan fesyen diinisiasi oleh Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) tersebut ingin memberikan platform kepada para pelaku sektor mode dengan mengajak ratusan desainer, pemilik merek, pemilik rumah mode, perajin karya mode dan kriya, hingga pelaku UMKM untuk dapat bersama-sama memperkuat ekosistem fesyen Indonesia.

Kali ini IFW mengusung tema “Ulos Simetria” untuk menegaskan bahwa industri mode Indonesia perlu menjaga keseimbangan antara tradisi dan inovasi, antara kearifan lokal dan persaingan global serta antara nilai budaya dan masa depan industri kreatif.

Sementara, Anak pengusaha kain tenun ulos UD Lamhot Pusat Pasar Kota Medan menyampaikan rasa terima kasihnya kepada desainer Torang Sitorus yang diakui sangat memperhatikan kemajuan produk tenunan asli daerah.

“Terima Kasih Banyak Kepada abang Torang Sitorus yang perhatikan tenun ulos, dengan membuat Event Fashion kain ulos di Indonesia Fashion week ulos juga ditampilkan tidak hanya sekadar kain adat dari Sumatera Utara tetapi juga simbol kehangatan, keseimbangan, harmoni dan persatuan,” kata Lamhot Hutajulu terkait pelestarian kain tenun ulos Kota Medan.

Diketahui, ajang fashion itu diselenggarakan pada 29 Juli sampai 2 Agustus 2026 dengan menghadirkan berbagai desainer dan tenant dari seluruh Indonesia dengan program yang mencakup fashion show, pameran dagang, talkshow, forum kreatif, pertunjukan hiburan dan kuliner.(ENC-2).

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.