oleh

Anggota DKPP: Regulasi Pilkada Kita Rumit dan Banyak Aturan

-Politik-21 views

EKSISNEWS.COM, Medan – Anggota Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Alfitra Salamm menilai meski secara umum penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahun 2020 adalah sukses dan lancer, namun melihat kepada sejumlah regulasi yang ada dianggap terlalu rumit dan banyak peraturan yang melekat.

“Meski secara umum berhasil dan lancer, tetapi ada beberapa hal, saya sampaikan terkait Pillada, bahwa  terkait regulsi pilkada ternyata rumit, terlalu banyak aturan,” kata Alfitra dengan sejumlah wartawan dalam dialog Ngetren Media: Ngobrol Etika Penyelenggara Pemilu dengan Media, Senin (14/12/2020) malam di Hotel Grand Mercure Medan.

Sehingga dampaknya, sebutnya, terjadi kelemahan di penyelengara  terhadap pemahaman yang berbeda, dikarenakan adanya peraturan sepertu UUD 1945, UU nomor 7 tahun 2017, PKPU (Pertauran KPU) dan Juknis (Petunjuk Tehnis).

“Bayangkan 5 aturan yang  mengatur Pilkada, saya menyatakan bahwa peraturan pilkada ga sederhana dan sangat rumit,” ujarnya.

Untuk hal tersebut , Alfitra mendorong adanya evaluasi peraturan, sehingga tidak terjadi perbedaan pemahaman dan penafsiran ditingkat penyelenggara. Seperti bekas narapidana yang TMS oleh KPU, sementara menurut Bawaslu calon tersebut layak menjadi seorang calon.

“Kasus itu kita dapati di Provinsi Bengkulu atasnama Nizamuddin, dimana KPU sudah men TMS kan beliau yang tak layak maju menjadi calon gubernur, tapi tiba-tiba turun rekomendasi Bawaslu,” katanya.

Artinya apa ?, ungkapnya, perbedaan penafsiran oleh KPU bersama Bawaslu terhadap terpidana dan naraidana.”Ini pengalaman pahit harus di evaluasi,” ujarnya kembali.

Pada kesempatan itu, Alfitra Salamm menyampaikan apresiasinya kepada pemerintah, KPU, Bawaslu dan pihak kepolisian terkait suskes dan lancarnya penyelenggaraan Pilkada serentak 2020.”Saya harus berkata jujur dan patut berapresiasi pilkada berjalan sukses,” katanya.

Demikian halnya untuk peningkatan partisipasi pemilih secara umum di Pilkada senetak 2020, meski awalnya ada pernyataan meminta penundaan dari NU, Muhammadiyah, Petisi Cedikiawan bahkan dari pribadi penyelenggara, namun akhirnya partisipasi pemilih bisa cukup tinggi.

“Dugaan saya, terlalu sering berita di koran atau mass media, terlalu sering kontroversi pemberitaan, sehingga dengan banyaknya pemberitaan-pemberitaan itu di masyarakat, mereka menjadi a wear, ternyata ada pilkada ternyata ini masih ada covid. Jadi, persepsi masyarakat terhadap pilkada itu bersifat ganda, yang jelas pengetahun masyarakat  akan adanya pilkada cukup tinggi,” sebutnya.

Hadir sebagai pembicara di Ngetren Media, yakni Yenni Rambe (Tim Pemeriksa Daerah) secara virtual, Liston Damanik (Ketua AJI Sumut), dengan moderator Suparmin dari DKPP.(ENC-2)

Komentar

Baca Juga