oleh

Gubernur Edy Beri Penjelasan Disebut Bentak Ulama

-SUMUT-28 views

EKSISNEWS.COM, Medan – Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi memberi penjelasan terkait pertemuannya dengan ulama dari Kabupaten Mandailing Natal (Madina) yang mengaku dimarahnya.

“Coba tanya, siapa yang marah-marah,” kata Edy saat ditemui wartawan, Senin (18/1/2021) di rumah dinas gubernur Jalan Sudirman Medan.

Selaku Ketua Satgas Covid-19 Sumut, Edy menerangkan, untuk membuka pembelajaran tatap muka (PTM), perlu pengkajian evaluasi secara komprehensif dengan sejumlah ahli. Terutama, ahli yang berurusan dengan kondisi rill covid-19.

Siapapun yang dijelaskan gubernur selaku Ketua Satgas untuk satu daerah, untuk membuka PTM perlu pengkajian evaluasi secara konfrehensif, “Siapa dia, yang pertama dokter ahli anak, psikolog anak, tokoh masyarakat yang berurusan dengan kondisi rill tentang covid,” jelasnya.

“Pasti kalian wartawan sudah monitor, kondisi covid di Sumut perlu perhatian khusus. Sehingga pemerintah menggelontorkan vaksin kepada tenaga kesehatan kita,” lanjutnya.

Kepada perwakilan Ulama dan pemerintah dari Kabupaten Mandailing Natal, Edy menjelaskan para orangtua masih sulit mensosialisasikan penerapan 3M protokol kesehatan. Sehingga,  ia tak bisa membayangkan anak-anak kalau sekolah dibuka.

“Apalagi Anak-anak kita, kalau dia sekolah, terus terpapar anak kita itu, pulang menular kan sama orangtua nya, neneknya. Itu yang saya jelaskan,” ungkapnya.

Edy menambah, setelah ia menjelaskan hal tersebut, perwakilan Ulama dan pemerintah dari Kabupaten Mandailing Natal tidak Terima. “Tapi masih tidak terima. Kalau tidak terima, pulang, ini wewenang saya,” sebutnya.

Sebelumnya, Ulama dari Mandailing Natal (Madina) yang juga wakil Rais Pengurus Wilayah Nahdhatul Ulama (PWNU) Sumatera Utara , Syekh H. Abdul Bais Nasution, LC, MA dan Ustaz H. Mahyuddin mengaku mendapat perlakukan dan ucapan kasar dari Gubernur Sumatera Utara, H Edy Rahmayadi pada Selasa (12/1) di Masjid Agung, Medan.

Peristiwa itu terjadi usai salat Subuh berjamaah di Masjid Agung. Kedatangan ulama dari Madina bersama Sekretaris Daerah Gozali Pulungan dan beberapa pejabat di Pemkab Madina, yaitu Samruddin dari Dinas Pendidikan, Rukun Harahap dari Dinas Kesehatan Kabupaten Madina, ada juga perwakilan dari kepala SD yaitu Pauzan Amris, perwakilan dari Kepala SMP yaitu Defrion, serta pengawas sekolah yaitu Zulhan Efendi dengan tujuan menguatkan permohonan pelaksanaan sekolah tatap muka.

Hal itu sesuai dengan surat Bupati Madina bernomor 420/0039/Disdik/2021 tertanggal 8 Januari 2021 yang ditujukan kepada Gubernur sebagai upaya terlaksananya sekolah tatap muka di Kabupaten Madina.

“Kedatangan kami menemui Gubernur untuk menyampaikan maksud menguatkan permohonan diizinkannya pelaksanaan sekolah tatap muka. Namun Gubernur langsung membentak dan mengeluarkan kalimat “Saya penjarakan kau nanti apabila diizinkan sekolah tatap muka di Madina”. Itu disampaikan Gubernur berulang-ulang kepada kami,” kata Syekh H. Abdul Bais Nasution bersama Ustaz Mahyuddin kepada wartawan.

Syekh Abdul Bais dengan lembut memberikan penjelasan kondisi banyaknya pelajar yang sudah terjadi krisis akhlak disebabkan sudah terlalu lama tidak mengikuti sekolah sebagaimana biasanya (tatap muka). Ia juga menyampaikan soal keberadaan Covid-19 di Kabupaten Madina yang terdata tinggal 1 orang, itu pun pelaku perjalanan .

“Mendengar saya bicara, beliau membentak saya dengan kata ‘Diam’. Saya masih berusaha menjelaskan kembali, saya sampaikan ke beliau kalangan anak didik sudah terjadi krisis akhlak dan moral terutama di pedesaan. Anak didik sudah banyak yang merokok, mencuri, dan meresahkan masyarakat terkhusus kalangan orang tua. Sementara di kota anak-anak siang dan malam menghuni warnet, siapa yang kita salahkan dengan kondisi ini?” kata Syekh Abdul Bais.(ENC-2)

Komentar

Baca Juga