oleh

Kejari Medan Terima Limpahan Perkara Jualbeli Vaksin Covid-19

-HUKRIM-7 views

EKSISNEWS.COM, Medan – Kejaksaan Negeri (Kejari) Medan telah menerima limpahan atau penyerahan tiga tersangka dan barang bukti (tahap II), dugaan tindak pidana korupsi yang terkait dengan suap (jual beli) dalam kegiatan vaksinasi covid-19 kepada masyarakat dari penyidik Poldasu pada Kamis (15/07/21), sore kemarin.

Setelah menerima penyerahan Tahap II terkait perkara kegiatan vaksinasi Covid19 dengan tiga tersangka, Kejari Medan segera membuat dakwaan dan melimpahkan ke pengadilan.

Penegasan ini dibenarkan sekaligus disampaikan Kajari Medan, Teuku Rahmatsyah kepada wartawan dalam siaran persnya, Jumat (16/07/21).

Masih dalam keterangan persnya, Kajari Medan, Teuku Rahmatsyah menyebutkan berkas dan tiga tersangka yang dilimpahkan yakni Indra Wirawan, Kristinus Saragih, dan Selviwaty alias Selvi.

Didampingi Kasi Intel Kejari Medan Bondan Subrata,  dan Kasi Pidsus Kejari Medan, Agus Kelana Putra, Kajari Medan menegaskan kronologis bermula perkara korupsi dalam kegiatan vaksinasi tersebut.

Kejadian ini bermula saat Selviwaty alias Selvi menghubungi Kristinus Saragih,  yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS)  di Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) untuk kesediannya memberikan Vaksin Covid-19 kepada teman-temannya.

Atas permintaan dari terdakwa Selviwaty alias Selvi tersebut, Kristinus Saragih, bersedia dengan dengan biaya sebesar Rp250.000,- per orang untuk satu kali suntik Vaksin.

Masih dalam keterangan persnya, Kajari menyebutkan bahwa tersangka Kristinus Saragih, memperoleh vaksin covid 19 merek SINOVAC mengambilnya dari sisa kegiatan vaksinasi di Instansi Pemerintah, Swasta, Organisasi, Tokoh Agama, tokoh masyarakat, Guru dan Lansia yang ada di Kota Medan ternyata terdapat sisa vaksin kemudian disimpan dan tidak dikembalikan ke Dinkes Provinsi Sumut.

Selanjutnya, vaksin sisa tersebutlah yang digunakan atas permintaan dari Terdakwa Selviwaty alias Selvi dengan pembayaran sebesar Rp250.000,- satu kali suntik vaksin perorang sehingga untuk dua kali vaksin akan dibayar sebesar Rp500.000,-.

Dari jumlah total keseluruhan yang diterima Kristinus Saragih, dari Selviwaty alias Selvi atas kegiatan vaksinasi tersebut yaitu sebesar  sebesar Rp142.750.000,00,-.

Bahwa selanjutnya ketika Selviwaty alias Selvi kembali meminta Kristinus, untuk mau memvaksin lagi orang-orang yang akan dikoordinir dan dikumpulkannya, Kristinus Saragih, menyampaikan tidak sanggup lagi karena kehabisan stok vaksin.

Maka oleh Kristinus  menyarankan Selvi untuk meminta bantuan dengan temannya yang juga berprofesi dokter di Rumah Tahanan Negara (RUTAN) Tanjung Gusta Medan yaitu  Indra Wirawan.  Kemudian, Kristinus  memperkenalkan Indra Wirawan dengan Selvi adalah pada saat pelaksanaan vaksinasi di Jati Residence Kota Medan sekira bulan April 2021.

Selanjutnya Selvi membuat kesepakatan dengan Indra  untuk mau melakukan vaksin dengan orang-orang yang akan dikumpulkannya dan membuat kesepakatan dimana akan diberikan uang kepada Indra Wirawan dari orang-orang yang akan divaksin tersebut sebesar Rp250.000,- per-orang untuk sekali suntik vaksin. Dimana, dari uang sebesar Rp250.000 yang dikutip dari setiap orang yang akan divaksin maka kepada Indra akan mendapat Rp.220.000,- sedangkan sisanya Rp30.000,- untuk Selvi.

Sedangkan total yang diterima oleh Indra Wirawan yang diberikan oleh Selvi atas melakukan pemberian dan penyuntikan vaksin kepada orang-orang yang mau memberikan uang tersebut yaitu sebesar Rp134.130.000,00.

Atas perbuatannya kedua terdakwa yaitu Indra Wirawan beserta Kristinus Saragih, merupakan ASN dalam jabatannya  sebagai dokter yang juga  ditunjuk selaku vaksinator, mau memberikan dan menyuntikan vaksin tersebut kepada orang-orang yang bersedia memberikan uang sehingga bertentangan dengan kewajibannya selaku Pegawai Negeri yang tidak dibenarkan untuk menerima uang atau hadiah, apalagi vaksin yang disediakan oleh Pemerintah dengan sumber dana dari APBN tersebut diberikan secara gratis kepada seluruh masyarakat Indonesia perbuatan keduanya diatur dan diancam pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 3 ayat (4) dan ayat (5) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 10 tahun 2021 tentang Pelaksanaan Vaksinasi Dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Covid-19, keduanya melanggar Pasal 12  huruf a dan atau huruf b dan atau Pasal 11 dan atau PAsal 5 ayat (1) dan atau Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 64 ayat (1) KUHPidana.

Sedangkan Selviwaty alias Selvi (berkas terpisah) selaku koordinator bertugas mengkoordinir masyarakat yang akan divaksin oleh Kristinus  maupun Indra dengan cara mengajak masyarakat mau mengumpulkan uang masing-masing sebesar Rp250.000,- per-orang untuk sekali disuntik vaksin dan selanjutnya uang yang telah dikumpulkan oleh Selviwaty alias Selvi diberikan kepada Kristinus  maupun  Indra  setelah masyarakat selesai disuntik vaksin, melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a dan atau b dan atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Selain dari ketiga tersangka tersebut, sejumlah barang bukti juga yang turut diterima diantaranya sejumlah dokumen, buku tabungan, vaksin, dan sejumlah barang lainnya yang berkaitan dengan penangananan perkara tersebut.

Adapun ketiga tersangka selanjutnya dilakukan penahanan dalam kepentingan Jaksa Penuntut Umum menyiapkan Dakwaan serta melimpahkan perkara ke Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Medan untuk segera disidangkan.

Dimana, tersangka  Indra  beserta  Kristinus  ditahan di Rutan Labuhan Deli dan tersangka Selviwaty alias Selvi dilakukan penahanan di Rutan Wanita  Klas II.a Tanjung Gusta Medan.(ENC-NZ)

Komentar

Baca Juga