oleh

Komoditas Unggulan Pertanian Daerah Jadi Perhatian Pemprov Sumut

-ADVETORIAL-116 views

MEDAN, Eksisnews.com – Komitmen pasangan Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi bersama Wakil Gubernur (Wagub) Sumut Musa Rajekshah dalam mewujudkan Sumut yang agraris, semakin menyata. Terbukti dari perhatiannya dalam upaya meningkatkan produksi beberapa komiditas pertanian di sejumlah daerah.

Seperti dalam kunjungannya ke Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumut yang berlokasi di Jalan Jenderal Besar AH Nasution, Rabu (17/7/2019). Gubernur menekankan pada balai tersebut untuk terus melakukan penelitian menghasilkan inovasi di sektor pertanian.

Karena, melalui penerapan invonasi teknologi pertanian, produksi pertanian dapat ditingkatkan, begitu juga pendapatan dan kesejahteraan petani. Ini juga sejalan dengan program Gubernur untuk Membangun Desa Menata Kota.

Diketahui, BPTP Sumut yang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian, telah menghasilkan 600 inovasi teknologi pertanian. Berbagai inovasi tersebut terangkum dalam buku ‘600 Teknologi Inovatif Pertanian’ yang diserahkan Kepala BPTP Sumut Khadijah kepada Gubernur Edy Rahmayadi.

Perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut tidak hanya sebatas mendorong BPTP dalam melahirkan penelitian dan inovasinya, juga melihat lebih dekat kepada proses panen raya seperti pada komoditas cabai merah milik petani di Desa Lubuk Cuik, Kecamatan Limapuluh Pesisir, Kabupaten Batubara, Selasa (16/7/2019).

Cabai Merah di Batubara

Pemandangan saat itu, dengan memakai sepatu bot dan topi bertani, Gubernur bersama Ketua TP PKK Sumut Nawal Edy Rahmayadi turun dan memetik cabai merah yang bergantungan lebat di batang tanaman cabai. Bupati Batubara Zahir dan Wakil Bupati Batubara Oky Iqbal juga ikut bergabung.

Diakui Gubernur, dirinya sangat senang, karena bisa mengikuti langsung panen raya. Baginya, melihat hamparan pohon cabai tersebut memberikan rasa optimis untuk mewujudkan Sumut yang agraris.

Bahkan, Gubernur dalam janjinya untuk mendukung pertumbuhan produksi cabai tersebut, akan memberikan bantuan berupa bibit unggul dan pelatihan untuk mengatasi hama yang merusak cabai. Semua ini, untuk memastikan ketersediaan cabai dan ketahanan pangan di Sumut secara umum. Apalagi, cabai merupakan salah satu komoditi pertanian yang sering mempengaruhi inflasi.

Namun, terungkap dalam kegiatan itu bersama Bupati Batubara Zahir bahwa ketahanan cabai yang lemah dan cepat membusuk menjadi satu kendala yang dihadapi para petani di Batubara. Artinya, diperlukan inovasi atau teknologi yang bisa membantu merawat dan meningkatkan ketahanan cabai agar awet lebih lama.

Sentra Penghasil Bawang Merah

Upaya lainnya dilakukan Pemprov Sumut yang mendorong Kecamatan Sinembah Tanjung Muda (STM) Hulu, Kabuaten Deliserang menjadi sentra penghasil bawang merah di Sumut. Kondisi tanahnya yang subur sangat mendukung untuk pengembangan tanaman bawang merah di daerah ini.

Hasil kunjungan ke Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 STM Hulu, Desa Liang Muda, Kecamatan STM Hulu, Kabupaten Deliserdang, Rabu (17/ 7/2019), telah mengetahui bahwa daerah STM Hulu sebelumnya dikenal sebagai salah satu daerah penghasil salak, namun ke depan daerah ini juga diharapkan bisa menjadi penghasil bawang merah.

Apalagi,  dalam kunjungan itu Gubernur Edy Rahmayadi atas nama Pemprov Sumut turut menghibahkan lahan pertanian seluas 2 hektare yang saat ini ditanami bawang merah, sekaligus menyerahkan satu hand tractor, 3 ruang kelas baru, 38 unit komputer beserta servernya kepada SMKN 1 STM Hulu. Bantuan ini diharapkan dapat dimanfaatkan para siswa untuk belajar pertanian, sehingga nantinya dapat membantu masyarakat mengembangkan pertanian Sumut, khususnya di STM Hulu.

Pertanaman Sistem Jarwo

Gubernur juga sempat menyoroti pertanaman padi sistem jajar legowo (Jarwo) di Desa Sei Buluh, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai, Selasa (16/7). Menurutnya, teknologi Jarwo merupakan teknologi budidaya terpadu padi sawah irigasi berbasis tanaman jajar legowo 2:1 atau 200 ribu rumpun per hektare dengan alat mesin tanam padi yang disebut Jarwo Transplanter.

Rerata panen padi dengan teknologi Jarwo mencapai 8 hingga 9 ton/hektare. Namun, baru-baru ini ada yang mencapai 11 ton/hektare. Sehingga, diharapkan teknologi ini bisa diterapkan di seluruh daerah di Sumut.

Diketahui, hasil teknologi Jarwo yang diperkenalkan BPTP Sumut, memungkinkan petani bisa memanen padi hingga 9 ton/hektare, bahkan ada yang mencapai 11 ton/hektare. Angka tersebut hampir mengejar produktivitas panen padi di Thailand yang mencapai 12 ton/hektare.

Adapun, luas lahan sawah percontohan saat ini dengan teknologi Jarwo hingga tahun 2018 mencapai 1.174 hektare, yang tersebar di Kabupaten Langkat, Deliserdang, Tapanuli Selatan, Batubara, Labuhanbatu, Asahan, dan Serdang Bedagai.

Artinya, akan semakin banyak daerah yang pakai teknologi tersebut, pengaruh positifnya semakin melimpah produksi padi di Sumatera Utara khususnya. Namun yang terpenting, peran para penyuluh yang telah sabar membimbing para petani.

Selain itu, diakui, Edy Rahmayadi, Pemprov Sumut melalui Dinas Pendidikan sedang menggalakkan revitalisasi SMK. Dimana, SMK Pertanian nantinya diharapkan bisa turun langsung dan berkontribusi di tengah-tengah masyarakat petani melalui inovasi dan penyuluhan.

Produsen Kopi

Kepedulian Pemprov Sumut juga terlihat pada kegiatan di Berastagi Kabupaten Karo. Wagub Musa Rajekshah yang mengharapkan Provinsi Sumut bisa menjadi produsen  terbesar kopi di Indonesia. Hal itu sangat memungkinan mengingat posisi Sumut saat ini sebagai produsen terbesar ke empat nasional dan didukung perkebunan kopi yang luas.

Meski hari ini Sumatera Utara menjadi produsen terbesar ke empat dari seluruh Indonesia, maka tahun 2022 diharapkan bisa menjadi ke dua, bahkan bisa menjadi produsen pertama untuk penyuplai kopi, apalagi Sumut punya delapan wilayah penghasil kopi.

Berdasarkan fakta perkembangan kopi di Sumut saat ini ada delapan kabupaten/kota penghasil kopi, seperti Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Mandailingnatal (Madina), Simalungun, Dairi, Karo, Toba Samosir (Tobasa), Tapanuli Utara (Taput), dan Humbanghasundutan (Humbahas).

Hal ini didukung berdasarkan data BPS, produksi kopi Sumut pada tahun 2018 tercatat 72.379 ton, yang terdiri atas Kopi Arabika Spesialty 63.425 Ton dan Produksi Robusta 8.954 Ton. Luas areal tanaman Kopi Arabika Spesialty 71.955 hektare dan Kopi Robusta 19.416 hektare. Sumut juga mengekspor kopi melalui Pelabuhan Belawan sebanyak 64.810 ton dengan nilai US$ 325.450.515.

Musa Rajekshah meyakinkan, Pemprov Sumut tengah serius Membangun Desa Menata Kota. Meningkatkan kesejahteraan para petani di daerah ini. Bagaimana bisa menjadikan Sumut yang bermartabat, membangkikan ekonomi dengan membangun desa menata kota. Artinya, Pemprov Sumut sangat berkomitmen menginginkan petani menjadi orang kaya, jangan petani pas-pasan, pas begitu panen baru ada duit.

Pada kegiatan tersebut terungkap, Korporasi Pembiayaan Perdagangan Islam Internasional (International Islamic Trade Finance Corporation – ITFC), yang merupakan lembaga keuangan internasional, telah menyetujui untuk menyediakan pembiayaan sebesar US$ 30 juta untuk eksportir kopi di Sumut. Dengan fasilitas pembiayaan yang berdasarkan prinsip syariah, ITFC membantu para eksportitr kopi di Sumut untuk dapat melakukan pembayaran kepada para petani dan koperasi,  setiap kopi yang mereka beli di hari yang sama. Hal ini juga membantu para petani dan koperasi untuk modal kerja mereka.

Program Pengembangan Ekspor Kopi ITFC di Sumut dimulai pada tahun 2018, ada 349 petani kopi di Karo dan Kabupaten Dairi, Sumut telah mendapatkan manfaat dari kegiatan peningkatan kapasitas yang telah diberikan. Pelatihan-pelatihan ini telah meningkatkan kapasitas para petani kopi dalam pertanian organik dan praktek-praktek pertanian yang baik (Good Agricultural Practices-GAP).

Lebih lanjut, dalam perkembangannya komoditi kopi Arabika asal Sumut merupakan komoditi yang terkenal dengan kualitas dan diminati di pasar internasional. Hal tersebut diakui langsung oleh Hani Salem Sonbol, CEO International Islamic Trade Finance Corporation (ITFC) saat acara  mewisuda 349 petani kopi dari Kabupaten  Karo dan Dairi yang telah mengikuti program Coffee Export Development, Selasa (16/7/2019).

Belum lagi, Wagub Musa Rajekshah berdasarkan pengalaman perjalannya berkunjung ke Rusia. Beliau berkesempatan  singgah ke salah satu kedai kopi, pada dinding kedai kopinya banyak tulisan tentang ragam Kopi Sumatera, jadi begitu terkenalnya lah Kopi Sumatera ini,”Kita harus manfaatkan itu,” ujarnya.

Sampai saat ini, selain Jeddah ada enam negara yang menjadi langganan Kopi Sumatera. Negara yang sangat berminat dengan Kopi Sumatera itu diantaranya Amerika, Jerman, Jepang, Korea, Belanda, dan China.

Karena minat yang cukup tinggi itu pula, pertumbuhan petani kopi di Tanah Karo cukup signifikan, terungkap dalam  beberapa tahun terakhir pertanaman berkembang secara signifikan di Tanah Karo, sampai tahun 2018 luas tanaman kopi mencapai 9.178,44 hektare dan luas panen 6.875 hektare, dengan produktivitas 1.931,60 kg/hektare/tahun.

Kabupaten Karo merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sumut yang 80 % masyarakatnya hidup dari sektor pertanian. Hal ini dapat dilihat dari PDRB sektor pertanian sebesar 56 %.

Untuk mengembangkan produk pertanian, Gubernur dan Wagub Sumut terus mendorong daerah kabupaten/kota mengembangkan komoditas unggulan pertanian yang ada di daerah masing-masing. Dengan begitu diharapkan produk unggulan pertanian Sumut akan meningkat, yang pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani di daerah ini. Sehingga upaya menjadi Sumut sebagai provinsi yang aman, sejahtera dan bermartabat akan terwujud. (ENC-1)

Komentar

Baca Juga