oleh

Langkah Sigap Edy-Ijeck Tangani Warga Sumut Korban Wamena

-ADVETORIAL-58 views

MEDAN, Eksisnews.com – Bencana sosial yang terjadi di Wamena, Papua, pada 23 September lalu, menyita perhatian Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Edy Rahmayadi dan Wakil Gubernur (Wagub) Musa Rajekshah (Edy-Ijeck). Pasalnya, peristiwa yang diduga dipicu insiden salah paham oleh seorang guru kepada siswa itu mengakibatkan tewasnya 32 orang dan sekitar 5.000 orang mengungsi, termasuk 651 orang warga Sumut.

Tidak ingin berlama-lama melihat warga menderita di sejumlah pokso pengungsian, Gubernur pun sigap dan melakukan berbagai upaya untuk menangani warga Sumut di Papua yang mengungsi. Antara lain membentuk dan memberangkatkan Tim Khusus “Sumut Peduli Wamena”ke Papua.

Tim Khusus “Sumut Peduli Wamena” ini antara lain memiliki tugas pokok, untuk memastikan informasi yang masih simpang siur dan melakukan pendataan warga Sumut di Wamena yang berada di sejumlah posko pengungsian. Memberikan bantuan kepada warga di pengungsian, terutama makanan dan minuman, serta baju dan kebutuhan lainnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumut Riadil Akhir Lubis, Minggu (6/10/2019) menyampaikan, Tim 1 yang ke Jayapura telah dan sedang bekerja mendata warga Sumut di pengungsian (Jayapura – Sentani – Abepura) dan berkoordinasi dengan pihak TNI/Polri, Badan Nsional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Komunitas Masyarakat Sumut.

Untuk sementara, telah di data 5 Posko dengan jumlah warga Sumut 293 orang. Antara lain di Posko Rindam sebanyak 70 orang, Yonif 751 sebanyak 22 orang, Masjid Al Aqsa  1 orang, dan Posko Tanah Itam  200  orang. “Kebutuhan warga, untuk sementara cukup di pos pengungsian. Namun, pakaian diperlukan,” katanya.

Tim juga melakukan pendataan dan wawancara kepada para pengungsi. Hasilnya, dari 293 orang pengungsi tersebut sebanyak 85% menyatakan ingin pulang ke Sumut dan 15 persen minta ke luar Wamena (Sulawesi-Jawa-Jakarta). Waktu diwawancarai 85 persen minta pulang ke Sumut, sisanya minta keluar Wamena.

Sedangkan Tim 2, melakukan evakuasi terhadap warga Sumut yang sempat mengungsi dari Papua ke Surabaya. Jumlahnya 31 orang, dan yang meminta pulang ke Sumut sebanyak 14 orang, terdiri atas 10 dewasa dan 4 anak-anak. Sedangkan sisanya 17 orang sudah diambil keluarganya dan di bawa ke Malang dan provinsi lain. Sebanyak 14 warga Sumut pun diberangkat dari Surabaya Sabtu (5/10) sore dan sampai di Medan, Rabu (9/10). 

Untuk Tim 3 di Tanjung Priok, juga menyiapkan pemulangan warga Sumut yang datang dari Makasar. Warga Sumut yang berjumlah 24 orang, terdiri atas 14 dewasa dan 10 anak-anak itu tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Senin (7/10), langsung diberangkatkan menuju Sumut, menggunakan bus.

Setelah itu, Tim Pemprov Sumut juga memfasilitasi pemulangan 175 pengungsi asal Sumut di Papua ke Sumatera Utara. Mereka diberangkatkan menggunakan kapal laut dari Pelabuhan Jayapura, Jumat (11/10) menuju Pelabuhan Belawan, Medan. Namun dalam perjalanan kapal mengalami masalah teknis, sehingga para pengungsi diturunkan di Pelabuhan Tanjung Priok, kemudian melanjutkan menggunakan bus hingga ke Medan.

Disambut Gubernur

Sebanyak 36 warga Sumatera Utara (Sumut) yang menjadi korban bencana sosial di Wamena, Papua, tiba di Kota Medan, Rabu (9/10). Mereka disambut langsung oleh Gubernur Sumut Edy Rahmayadi dan dijamu makan, di Aula Raja Inal Siregar, Lantai 2, Kantor Gubernur, Jalan Pangeran Diponegoro, Nomor 30, Medan.

Ini merupakan bukti kecintaan dan kepedulian Gubernur terhadap warganya, di mana pun berada. Gubernur langsung menemui warganya, karena ingin mengetahui secara langsung kondisi warganya, sekaligus memberi motivasi untuk tetap semangat dalam menjalani hidup.

Tidak hanya itu, Gubernur juga menyambut langsung kedatangan 175 warga Sumut yang tiba di Kantor Gubernur Sumut, Jalan Pangeran Diponegoro, Nomor 30 Medan, Senin (21/10), setelah menempuh perjalanan 10 hari lewat laut dan darat.

Dari 175 pengungsi, yang diangkut menggunakan 8 bus angkutan umum tersebut, 166 orang di antaranya merupakan warga Sumut dari 12 kabupaten/kota, yang selama ini bekerja di Wamena. Sedangkan, 5 orang lagi merupakan warga Aceh Tenggara dan 4 orang warga Riau.

Gubernur Sumut Edy Rahmayadi menyampaikan, pendidikan anak-anak adalah prioritas yang harus diurus segera. Untuk itu, Gubsu meminta pihak terkait mendata siswa SMA dan SMP agar difasilitasi administrasinya sewaktu pindah ke daerah ini.

“Saya minta ini tolong fasilitasi, kalau tidak mampu tolong sampaikan ke saya segera, nanti akan kita fasiliasi seragam sekolah, buku, dan sepatunya. Jangan sampai anak-anak putus sekolah,” pesan Edy Rahmayadi.

Kemudian, Edy Rahmayadi juga menyoroti tentang kehidupan pengungsi setelah tiba di kampung halamanya masing-masing. Menurutnya, warga yang baru tiba tersebut akan kesulitan jika kehidupannya tidak dibantu dan difasilitasi. Untuk itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan Pemerintah Kota (Pemko) diharapkan segera membantu warganya yang baru tiba dari Wamena.

“Saya sudah berkomunikasi dengan Pemkab/Pemko ada warganya yang mengalami musibah ini untuk dibantu kehidupannya, paling tidak selama 3 bulan ke depan. Nanti kita fasilitasi dan monitor agar ini dilakukan,” tegas Edy.

Pada kesempatan itu, Gubernur juga memberikan tali asih dan bingkisan untuk para pengungsi. Selanjutnya, para pengungsi akan dipulangkan ke daerah asalnya masing-masing, dengan didampingi oleh para penjemput yang mewakili kabupaten/kota.

Gubernur meminta para penjemput warga dari masing-masing kabupaten/kota agar memastikan warganya sampai di rumah dengan selamat. Serta diminta agar terus berkoordinasi jika masih memerlukan bantuan Pemprov Sumut.

Kepada para pengungsi, Edy Rahmayadi berpesan agar selalu semangat menjalani hidupnya. Menyesuaikan diri dengan tempat tinggal baru. “Saya senang kalian bisa tertawa-tawa lagi, saya tak senang kalian susah, hadapi hidup dengan pasti,” pesannya.

Kepedulian Edy-Ijeck juga terlihat dari penggalangan dana yang dilakukan Pemprov Sumut, Kamis (3/10), di Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro, Nomor 30, Medan. Kegitan bertajuk “Sumut Peduli Wamena” itu berhasil  mengumpulkan dana sebesar Rp2,1 miliar, guna membantu warga Sumut yang menjadi korban kerusuhan di Wamena, Papua, baru-baru ini.

Dana Rp2,1 miliar itu berasal dari para donatur yang hadir dalam aksi penggalangan dana tersebut. Di antaranya, Bupati Labuhanbatu Utara Khairuddin Syah, Bupati Mandiling Natal Dahlan Hasan Nasution, Ketua Yayasan RS Sembiring Johannes Sembiring, Kepala BPBD Sumut Riadil Akhir Lubis, Kepala Dinas PUPR Effendi Pohan, Ketua BM3 Sumut Syahruddin Ali, beberapa mantan Sekda Sumut, pengusaha, tokoh masyarakat dan tokoh agama.

“Alhamdulillah hari ini terkumpul Rp2,1 miliardan masih ada tiga hari lagi sebelum tim kita berangkat ke sana. Jadi, bila masih ada yang mau menyumbang lagi silahkan hubungi kami,” kata Edy Rahmayadi.

Mendapat Apresiasi

Kepedulian Edy-Ijeck terhadap pengungsi warga Sumut di Papua mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Apresiasi itu antara lain disampaikan Ketua Karang Taruna Sumut Dedi Dermawan Milaya. “Kepedulian Gubernur terhadap warga Sumut yang mengungsi di Papua, patut diapresiasi,” kata Dedi Dermawan Milaya, Jumat (11/10), di Kota Medan.

Sebagai mantan tentara, kata Dedi, Gubernur Edy Rahmayadi tidak gegabah menyikapi persoalan pengungsi di Wamena. Gubernur terlebih mengumpulkan tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk meminta masukan dan saran, tentang langkah apa yang tepat untuk dilakukan. Juga mengumpulkan para pejabat, pengusaha dan tokoh masyarakat guna penggalangan dana bantuan untuk warga Sumut di Wamena.

“Pak Edy juga membentuk dan mengirim tim langsung ke Wamena, guna mengumpulkan informasi tentang kondisi sebenarnya yang terjadi Papua, karena informasi yang beredar tentang itu masih simpang siur. Setelah mendapatkan kepastian tentang keberadaan warga Sumut yang menjadi korban dan mengungsi, segera dikirim bantuan makanan dan kebutuhan lainnya. Jadi benar-benar terencana, ini yang kita kagum dari Pak Edy,” ungkapnya.

Selain itu, kata Dedi, untuk memudahkan proses evakuasi dan pemulangan pengungsi ke Sumut ataupun kembali ke Wamena, Gubernur terus berkoordinasi dan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak terkait. Temasuk dengan TNI/Polri di Papua, Kemensos, Kenterian PU, BNPB dan berbagai pihak lainnya. “Sehingga pemulangan warga ke Sumut dapat dilakukan segera,” ujarnya.

Apresiasi juga datang dari Dekan Fisipol Universitas Medan Area (UMA) Heri Kusmanto MA PhD. Menurutnya, meski banyak persoalan yang harus ditangani Gubernur di Sumut, namun tetap peduli dengan nasib warganya yang ada di Papua. Mulai dari penggalangan dana, memberikan bantuan, hingga memfasilitasi pengungsi yang pulang ke Sumut dan yang kembali ke Wamena.

“Dari peristiwa ini, saya melihat Pak Edy Rahmayadi sebagai sosok pemimpin yang benar-benar mengayomi dan peduli terhadap nasib warganya, di mana pun berada,” ungkap Heri Kusmanto kepada wartawan, Jumat (11/10), di Kota Medan.

Selain itu, kepada para pengungsi yang menjadi korban Wamena, menurut Heri, Gubernur selalu berpesan agar tetap menjaga persatuan dan kesatuan. Serta bersama-sama dengan penduduk setempat untuk menjaga agar suasana tetap kondusif. Tidak terpancing isu dan ajakan untuk membalas dendam atau tindakan anarkis lainnya. “Gubernur dalam setiap kesempatan selalu berpesan agar warganya di mana pun berada, tetap menjaga persatuan dan kesatuan, dan menjaga suasana tetap kondusif, ini juga yang membuat kita salut,” ujarnya.

Edy Rahmayadi yang pernah menjadi Komandan Korem 174/Anim Ti Waninggap Kodam XVII/Cendrawasih, kata Heri, juga terus meyakinkan warganya, bahwa masyarakat Papua juga sangat terbuka dan ramah terhadap para pendatang, serta cinta kedamaian. Kemudian juga mengimbau warganya untuk kembali ke Papua, setelah suasana kondusif.

Tidak hanya itu, Gubernur Edy Rahmayadi juga dinobatkan sebagai Bapak Peduli Kemanusiaan dan Kebencanaan Provinsi Sumatera Utara (Sumut) oleh peserta Jambore Daerah Kesiapsiagaan Bencana Daerah Provinsi Sumut 2019, Kamis malam (24/10), di Kecamatan Sipispis, Kabupaten Serdang Bedagai.

Penobatan ditandai dengan pembacaan deklarasi dan penyematan rompi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) oleh Kepala BPBD Sumut Riadil Akhir Lubis. Selanjutnya, Gubernur dipikul dan diarak berkeliling lapangan perkemahan dan disambut dengan sorakan semangat dari para peserta jambore.

Dalam deklarasi disebutkan bahwa respons dan kepedulian Gubernur Edy Rahmayadi yang tinggi atas berbagai bencana alam, sosial, dan kemanusiaan menjadi landasan penobatan gelar Bapak Peduli Kemanusiaan dan Kebencanaan. Bentuk respons dan kepedulian Gubernur di antaranya yakni pengendalian banjir Kota Medan dan sekitarnya, proses penanganan pasca erupsi Gunung Sinabung, kepedulian atas tragedi kemanusiaan di Wamena serta pemulangan warga ke Sumut.

Berikutnya, respons cepat tanggap kejadian bencana di beberapa kabupaten/kota Sumut hingga respons penggalangan bantuan atas bencana di luar Provinsi Sumut. Juga, mendukung berbagai program dan aktivitas kebencanaan baik tingkat daerah, provinsi, maupun nasional.

Gubernur Edy Rahmayadi mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta jambore atas gelar yang ia terima. Baginya, suatu kehormatan bisa menerima gelar tersebut dari para pahlawan-pahlawan kebencanaan.

“Sebenarnya justru kalian adalah orang-orang yang harus diberi penghargaan. Kalian adalah aktor-aktor garda terdepan yang bekerja dengan ikhlas memenuhi panggilan kemanusiaan saat terjadi bencana. Pekerjaan yang mulia itu yang kalian lakukan,” ucap Edy memuji.

Seperti arahannya saat menjadi pembina Apel Kesiapsiagaan Bencana, Edy kembali mengingatkan para peserta jambore untuk senantiasa menjaga alam. “Mudah-mudahan alam pun pasti akan menjaga kita. Berdoa kepada Tuhan agar kita dilindungi, karena Dia lah pemilik dan pengendali semesta ini,” pesannya. (ENC-1)

Komentar

Baca Juga