oleh

Saksi Diah Respatih Sebut Anwar Tak Terlibat Dalam Pinjam dan Penyerahan Rp 4 M

-HUKRIM-6 views

EKSISNEWS.COM, Medan – Sidang lanjutan Anwar Tanuhadi kembali digelar di ruang Cakra 4 Pengadilan Negeri (PN) Medan. Dalam sidang kali ini beragendakan mendengarkan keterangan dari 3 orang saksi yakni Diah Respatih alias Tati, Budi Setiawan dan Novi Juliana, Kamis (29/4/2021).

Dalam sidang yang digelar secara virtual tersebut Diah Respatih terlebih dahulu memberikan keterangan. Dihadapan majelis hakim yang diketuai Murni Rozalinda, SH, MH dan dua anggota hakim yakni Denny L Tobing, Donal Panggabean serta JPU Candra Priono Naibaho serta Tim Penasehat Hukum Terdakwa yakni,  Dr H KRH Henry Yosodiningrat, SH.MH, Dr. H. Radhitya Yosodiningrat, SH.MH, Dr. S. Ragahdo Yosodiningrat, SH, LLM dan Abdul Karim, SH, saksi Diah Respatih mengatakan kalau Anwar Tanuhadi tak terlibat peminjaman maupun penyerahan uang sebesar Rp 4 miliar seperti didakwakan  oleh JPU Candra Priono Naibaho dari Kejari Medan melakukan penipuan dan penggelapan uang sebesar Rp4 Milyar milik Joni Halim.

Pada persidangan tersebut Diah Respatih dihadirkan secara Virtual oleh JPU dari Rutan Pondok Bambu Jakarta, karena tengah menjalani masa hukuman. Dijelaskannya dimana masa hukuman yang dijalani saksi Diah Respatih tidak ada kaitannya dengan perkara penipuan dan penggelapan yang dituduhkan JPU pada terdakwa Anwar Tanuhadi. Diah menyampaikan bahwa, berawal pada Februari 2019, ia didatangi oleh kenalan yang bernama Charles.

“Waktu itu, Charles meminta carikan orang untuk investasi karena ada sertifikat yang mau diagunkan ke Bank, namun harus balik nama terlebih dahulu barulah bisa dicairkan,” kata Diah sembari menjelaskan akan mengusahakannya sebab yang dia tahu bahwa sertifikat itu milik perusahaan.

Selanjutnya, ia bertemu dengan Notaris Suningsih bertepatan saksi ada urusan lain pada waktu itu. Saksi Diah sempat bertanya pada notaris, siapa ya yang mau menanamkan investasi, kemudian Suningsih mengarahkan kepada Okto Rumahorbo.

Mendengar Diah ada menyebut nama Charles, Majelis Hakim sempat mengambil alih pertanyaan terhadap saksi Diah Respati dan mempertanyakan, siapa Charles itu?, sebab namanya tidak masuk dalam pemeriksaan BAP. Diah menjelaskan kalau Charles itu adalah kenalan yang minta tolong pada saksi.

Singkat cerita Okto dan Albert ke Jakarta bertemu dengan dirinya serta Dadang Sudirman dan Budianto dimana keduanya merupakan DPO pada perkara ini. Dari hasil pertemuan berlanjut dengan pengikatan perjanjian dikantor Notaris Suningsih. Bahkan Diah menyebutkan bahwa Dadang ada menandatangani perjanjian pemimjaman uang sebesar Rp4 miliar. Namun yang diterima hanya Rp3 miliar dari Okto pada Mei 2019 lalu.

Menjawab pertanyaan majelis hakim dan penasehat hukum terdakwa, Diah mengaku tidak mengenal Joni Halim selaku pemilik uang. Sebab saksi berkomunikasi dengan Okto bukan dengan Joni Halim.

Masih dalam keterangan saksi Diah, saksi mengakui dan membenarkan menjanjikan keuntungan Rp2 miliar. Namun tidak terealisasi. Okto memang bolak-balik menelponnya tentang kepastian pembayaran pelunasan hutang dan plus keuntungan.

Kemudian Diah menanyakan kepada Dadang Sudirman dan Budianto tentang dirinya dihubungi Okto. Nah disitulah muncul nama Anwar Tanuhadi, dimana Budianto menyebut tak usah khawatir ada kenalan kita yang punya plapon besar di bank dan bisa mencairkannya.

Diah juga membenarkan kalau dirinya diajak Budianto bertemu Anwar Tanuhadi, bahkan sebelum bertemu, Budianto meminta agar dirinya mengaku selaku pemegang saham di PT Cikarang Indah.

“Jadi dalam hal ini Anwar hanya menolong untuk mencairkan dana, asal semua syaratnya terpenuhi,” ungkap Diah sembari menjelaskan kalau pada waktu itu Anwar hanya mengatakan akan mempelajarinya terlebih dahulu.

Selain itu Diah juga merasa heran, perjanjian awalnya pinjam memimjam itu kan antara Okto dan Dadang, namun dalam perkara ini kenapa justru Anwar yang didakwa.

Saat anggota majelis hakim, Donald Panggabean menanyakan kepada saksi Diah, kemana si Charles, Dadang dan Budianto berada?. Diah menjawab tidak tahu, karena dirinya keburu ditangkap dan kini sedang menjalani proses hukum, sehingga keberadaan ketiganya tak diketahuinya lagi.

Sementara dua saksi lainnya Novi Juliani dan Budi Setiawan membenarkan mereka diajak oleh Okto dan Albert.  Novi menerangkan hanya bertemu sekali itupun diajak makan Okto yang bertepatan pada waktu itu ada janji bertemu dengan terdakwa dirumah makan Soto di Jalan TB Simatupang Cilandak, Jakarta Selatan.

Sementara Budi Setiawan dalam kesaksiannya mengatakan, bahwa sepengetahuannya Albert yang menceritakan pada saksi Budi kalau Joni Halim memimjamkan uang kepada Anwar. “Itu yang saya tahu dari cerita Albert,” cetus Budi.

Budi Setiawan juga membeberkan pada pertemuan kedua, Okto tampak marah sama Anwar. “Ini akan menjadi masalah besar nantinya,” kata Budi menirukan perkataan Okto.

Hal ini disebabkan Anwar memberikan sertifikat kepada Antoni selaku kuasa dari PT Cikarang Indah. Sebab pihak PT Cikarang Indah tidak ada menawarkan atau memberi kuasa khusus kepada Dadang apalagi sampai menerima uang dari Okto.

Sementara saat ditanya Dr H Henry Yosodiningrat, SH.MH, apakah ada orang yang bernama Antoni? saat di pertemuan di Soto itu?, saksi menjawab iya.”Iya ada,” ungkap saksi.

Nah Terdakwa yang ditanya Majelis Hakim tentang keterangan saksi, dengan tegas terdakwa menjelaskan bahwa dipertemuan pertama dirinya disuruh membayar hutang Rp 4 miliar dan dipertemuan kedua Okto marah.

“Dipertemuan pertama saya disuruh untuk membayar hutang 4 miliar, dan yang dipertemuan kedua disitu Okto marah, karena dari pihak Cikarang Indah mengatakan kalau urusan itu hanya dengan Dadang,” tegas terdakwa.

Setelah mendengarkan kesaksian ketiga saksi, Majelis Hakim menunda persidangan hingga Senin depan.

Diketahui dari pantuan awak media pada persidangan sejak dibacakan dakwaan hingga 6 saksi, diantaranya keterangan ketiga saksi yang dihadirkan JPU sidang kali ini, tidak satupun dari keterangan saksi- saksi yang menyatakan keterlibatan Anwar Tanuhadi, sejak awal perikatan pinjaman uang dan penyerahan Rp 4 miliar.

Bahkan pada keterangan tiga saksi pada persidangan sebelumnya, saksi korban Joni Halim, Okto dan Albert. Joni mengatakan yang meminjam uang padanya Okto dengan iming- iming mendapat keuntungan Rp 2 miliar dari Rp 4 miliar yang dipinjam.

Keterangan Okto Rumahorbo pada persidangan sebelumnya, Okto memberikan Uang Rp 4 miliar yang dipinjamnya dari saksi korban Joni Halim diserahkan kepada Dadang Sudirman di salah satu Cafe di Jakarta. Sedangkan Albert merekam pembicaraan Okto dan Anwar Tanuhadi.

Sudah 6 orang saksi diperiksa keterangannya didepan persidangan tak satupun mengatakan keterlibatan Anwar Tanuhadi sejak awal peminjaman sampai penyerahan uang Rp 4 miliar kepada Dadang Sudirman.(ENC-NZ)

 

Komentar

Baca Juga