EKSISNEWS.COM, Medan – Gelombang kritik terhadap sistem penjualan tiket ajang ASEAN U-19 Boys’ Championship 2026 di Sumatera Utara terus bermunculan. Publik menilai penyelenggara tidak transparan terkait adanya biaya tambahan dalam proses pembelian tiket, baik melalui platform resmi maupun pembelian langsung di gerai tiket.
Dalam unggahan resmi penyelenggara dan PSSI, harga tiket pertandingan diumumkan sebesar Rp200 ribu untuk kategori CAT 1 Barat/Timur, Rp150 ribu untuk CAT 2 Barat/Timur, serta Rp100 ribu untuk CAT 3 Selatan/Utara. Namun saat proses pembayaran berlangsung melalui platform resmi GARUDA.ID maupun pembelian di lokasi, penonton kembali dibebankan biaya tambahan yang tidak dijelaskan secara rinci dalam materi promosi awal.
Biaya tambahan tersebut diketahui mencapai Rp25 ribu untuk CAT 1, Rp20 ribu untuk CAT 2, dan Rp15 ribu untuk CAT 3. Kondisi ini menuai kekecewaan dari berbagai kalangan, terutama pelajar dan mahasiswa yang selama ini menjadi bagian terbesar suporter sepakbola nasional.
Mahasiswa sekaligus pemerhati sepakbola dan pencinta olahraga sepak bola, M Zaidaan Damar, menilai persoalan tersebut bukan sekadar soal nominal tambahan biaya, melainkan menyangkut transparansi dan penghormatan kepada publik sebagai pendukung utama sepakbola.
“Sepakbola hari ini perlahan terasa semakin jauh dari rakyat. Ketika harga tiket diumumkan tidak secara utuh, lalu masyarakat baru mengetahui adanya biaya tambahan saat pembayaran, maka publik merasa tidak diperlakukan secara transparan. Ini bukan hanya soal uang, tetapi soal kepercayaan,” ujar M Zaidaan Damar kepada wartawan, Jumat (29/5/2026).
Ia menegaskan bahwa sepakbola sejak awal tumbuh dari ruang sosial masyarakat, bukan semata industri hiburan komersial. Menurutnya, stadion selama ini hidup karena loyalitas suporter yang rela menyisihkan uang saku demi mendukung tim kesayangannya.
“Sepakbola adalah olahraga rakyat. Ia hidup dari suara tribun, dari pelajar yang menabung untuk membeli tiket, dan dari masyarakat yang tetap datang memenuhi stadion dalam berbagai keterbatasan. Kalau semua mulai dihitung dengan logika bisnis semata tanpa sensitivitas sosial, maka benar adanya bahwa sepakbola perlahan telah dicuri dari rakyat,” tegasnya.
Zaidaan juga meminta agar penyelenggara event olahraga nasional lebih terbuka dalam menyampaikan seluruh komponen biaya kepada masyarakat sejak awal promosi dilakukan. Menurutnya, transparansi merupakan kewajiban moral dalam sebuah acara publik yang melibatkan antusiasme besar masyarakat.
“Publik tidak anti terhadap biaya administrasi. Tetapi masyarakat berhak mengetahui seluruh rincian harga secara jelas sejak awal. Kejujuran informasi adalah bentuk penghormatan paling dasar kepada suporter,” tambahnya.
Fenomena mahalnya akses menonton sepakbola dan meningkatnya unsur komersialisasi belakangan memang menjadi sorotan banyak pihak. Sejumlah suporter menilai sepakbola nasional perlahan kehilangan akar sosialnya ketika penonton mulai diposisikan semata sebagai konsumen, bukan lagi bagian dari identitas dan kultur olahraga itu sendiri.
Di tengah tingginya antusiasme masyarakat Sumatera Utara menyambut turnamen ASEAN U-19 Boys’ Championship 2026, publik berharap penyelenggara dapat mengevaluasi sistem penjualan tiket agar lebih terbuka, terjangkau, dan berpihak kepada suporter sebagai ruh utama sepakbola nasional. (ENC-1)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.