Aliansi BEM Independen Sumut Nilai Pertemuan Amsal Sitepu dengan Jamintel Reda Manthovani Makin Permalukan Kejaksaan RI

EKSISNEWS.COM, Medan – Kontroversial kasus hukum yang melibatkan Amsal Christy Sitepu masih menyisakan persoalan hingga kini. Bekas terdakwa kasus korupsi pembuatan video profil desa yang bersumber dari anggaran desa itu kini seperti pesohor yang genit akan sorotan.

Selepas diputus bebas majelis hakim Pengadilan Tipikor Sumut, Amsal bertemu dan mendapat undangan dari banyak pihak. Mulai dari wawancara di podcast influencer, bertemu menteri hingga terakhir mendapat undangan dari Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen (Jamintel) Reda Manthovani.

Pertemuan antara Amsal dan Reda itulah yang menjadi perhatian dari Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Independen Sumatra Utara (Sumut). BEM Sumut mengkritik keras dan mempertanyakan pertemuan tersebut yang dimuat Amsal dalam bentuk video di akun resmi Facebook-nya itu.

“Ada apa dengan Jamintel Reda yang bertemu dengan Amsal? Ini seolah-olah memberi kesan bahwa Kejaksaan RI benar-benar mengkriminalisasi Amsal. Secara tidak langsung pertemuan tersebut Jamintel terkesan mempermalukan Kejaksaan RI dan Jaksa Agung ST Burhanuddin karena kinerja jajaran jaksa sembrono,” tutur Koordinator Aliansi BEM Independen Sumut, Ilham Saputra dalam keterangannya, Senin (20/4/2026) di Medan.

Berdasarkan video yang diunggah Amsal di akun Facebook-nya, kata Ilham, Reda tampak sumringah bertemu Amsal. Bahkan terdengar celetukan dalam video tersebut menyebut Amsal sebagai artis.

Di sisi lain, kata Ilham, jaksa yang sudah bekerja lebih dari 2 tahun mengungkap kasus korupsi pembuatan video profil desa itu justru disanksi dan dicopot dari jabatannya. Sungguh perbandingan yang ironis: Jamintel bertemu Amsal dan memujinya, sedangkan jaksa yang menangani kasus tersebut dicaci dan dihina di berbagai platform media sosial serta pemberitaan tanpa sedikit pun pembelaan dari Reda.

“Dari sini saya menduga ada agenda tersembunyi dari Jamintel (Reda) dengan mengglorifikasi Amsal sebagai orang yang ‘teraniaya’ atau ‘dizalimi’. Padahal Jaksa Agung ST Burhanuddin tegas kepada jajarannya agar tegak lurus dalam penegakan hukum. Dan Jaksa Agung Burhanuddin tidak pernah kok meminta maaf dalam kasus Amsal,” tambah Ilham.

Karena itu, kata Ilham, pihaknya menilai posisi Jamintel dalam kasus Amsal berbeda dengan Jaksa Agung ST Burhanuddin. Itu sebabnya, menjadi wajar posisi Jamintel yang begitu membela Amsal patut dipertanyakan.

“Saya menilai Jamintel sudah melebihi kapasitasnya dan mengabaikan Jaksa Agung ST Burhanuddin yang tak pernah minta maaf soal kasus Amsal. Artinya Jaksa Agung ST Burhanuddin tak menyalahkan jajarannya ketika menangani kasus Amsal. Tindakan Jamintel itu diduga bisa jadi terkait dengan isu pergantian jaksa agung,” kata Ilham.

Masih kata Ilham, pihaknya pun menyoroti semua yang terlibat dalam kasus Amsal, mulai dari anggota Komisi III DPR RI hingga Jamintel. Mengapa mereka sama sekali tidak bersuara untuk kasus yang serupa atas nama Toni Aji Anggoro, pekerja kreatif tapi dipidana dan dipenjara.

“Sedangkan Amsal itu direktur atau CEO dari perusahaan pelaksana proyek. Walau saya jarang menonton dan melihat hasil produksi Amsal yang ngaku sebagai pekerja kreatif. Ini bukan sekadar soal satu putusan. Ini soal rasa keadilan. Ketika yang lemah cepat dijerat, sementara yang memiliki posisi terlihat tidak tersentuh, maka publik mulai meragukan arah penegakan hukum,” tandas Ilham.

Sebelumnya, Amsal yang menjadi terdakwa kasus korupsi pembuatan video profil desa mengunggah video pertemuannya dengan Jamintel Reda Manthovani di akun Facebook-nya. Dalam pertemuan makan-makan tersebut, Amsal dan Jamintel Reda tampak akrab. Bahkan dalam video tersebut, terdengar celetukan bahwa Amsal sebagai artis. (ENC-1)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.