TMMD 128 “Membongkar” Semak di Pasar Rawa

EKSISNEWS.COM. Langkat – Di Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, masalah tidak selalu datang dalam bentuk besar. Ia tumbuh pelan-pelan—dalam parit yang tersumbat, jalan yang mulai tertutup semak, dan aliran air yang berhenti tanpa banyak disadari.Sabtu pagi itu, masalah-masalah kecil yang menumpuk bertahun-tahun mulai “dibuka paksa”.

Lewat program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 Kodim 0203/Langkat, Satgas bersama warga turun langsung ke titik paling dasar dari persoalan desa: membersihkan semak belukar dan mengembalikan fungsi saluran air yang lama tidak bekerja.

Tidak ada alat berat yang masuk ke lokasi. Tidak ada mesin yang mendominasi pekerjaan. Hanya cangkul, parang, dan tenaga manusia yang dipaksa berhadapan langsung dengan tanah, lumpur, dan vegetasi yang sudah terlalu lama dibiarkan tumbuh.

Di pinggir jalan desa, semak yang menutup pandangan dibabat satu per satu. Di sisi lain, parit yang hampir tidak lagi berbentuk saluran air dikorek kembali, mengangkat lumpur yang mengeras dan endapan yang menahun.Air yang sebelumnya stagnan mulai mencari jalurnya kembali.

Di lapangan, kerja itu tidak dibagi dalam narasi “TNI” dan “warga”. Keduanya berada dalam posisi yang sama: mengangkat, menebas, dan membersihkan. Sekat formal melebur di bawah panas matahari dan pekerjaan yang tidak ringan.

Komandan Satuan Setingkat Kompi (Dan SSK) TMMD 128, Muhammad Rezky, menyebut kegiatan ini bukan hanya soal fisik lingkungan, tetapi juga soal menghidupkan kembali kebiasaan kerja bersama di tingkat desa.

“Selain membuat lingkungan lebih bersih dan sehat, kegiatan ini juga memperkuat hubungan TNI dan masyarakat,” ujarnya.

TMMD di Desa Pasar Rawa memperlihatkan satu hal yang sering luput dari pembangunan formal: sebelum jalan diperlebar atau infrastruktur dibangun, ada hal-hal dasar yang lebih dulu harus dipulihkan—fungsi parit, akses jalan, dan ruang desa yang sempat “tersumbat” oleh waktu.

Di beberapa titik, pekerjaan bahkan lebih mirip upaya pemulihan daripada pembangunan. Parit yang tidak lagi terlihat sebagai saluran air harus dibentuk ulang dari awal. Sementara semak yang menutup bahu jalan membuat akses desa seperti perlahan menyempit tanpa disadari.

Namun di tengah lumpur dan rumput yang tumbang, ada perubahan yang mulai terlihat: air kembali bergerak, jalan mulai terbuka, dan desa yang sempat “diam” pelan-pelan kembali berfungsi.

Yang tersisa dari kerja itu bukan hanya lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga satu adegan yang jarang muncul di keseharian: warga dan prajurit bekerja tanpa jarak, dalam satu kepentingan yang sama—mengembalikan desa agar bisa kembali bernapas.(ENC-1)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.