oleh

Sidang Prapid, Kuasa Hukum Pemohon Tanya, Suster Rosmaida Simbolon Gugup

-HUKRIM-19 views

EKSISNEWS.COM, Medan – Sidang Praperadilan antara pemohon Hetty Simamora melalui Kuasa Hukum Ahmad Ahmad Fadhly Roza  melawan Polsek Deli Tua dan Kejaksaan Negeri Medan yang digelar di ruang Cakra 5 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Kamis (9/9/2021) beragendakan mendengarkan keterangan dari saksi suster Rosmaida Simbolon.

Dalam persidangan yang di pimpin Hakim Tunggal, M Hadi Nasution itu saksi Rosmaida tampak gugup saat menjawab pertanyaan yang diajukan Ahmad Fadhly Roza Kuasa Hukum pemohon.

Dihadapan Hakim, saksi Rosmaida Simbolon mengatakan, setelah menerima Maruli langsung dibawa tes urine. “Yang membawa saya dan didampingi staf laki-laki karena Maruli laki-laki untuk mengambil air kencingnya,” jawab saksi saat baru mulai sidang.

Saksi juga menyebutkan Maruli dimasukkan ke Pink Room yang difasilitasi busa-busa dan cctv.”Sebelum dia masuk ke ruangan Pink room tidak diborgol, namun karena dia melakukan perlawanan baru diborgol. Waktu itu dia melakukan pengrusakan Pink room, didalam pink room itu ada busa-busa, cctv,” cetus saksi.

Saat ditanya Fadhly Roza berapa lama di ruangan Pink room?, saksi tampak diam.

Ketika ditanya lagi oleh Fadhly Roza pada saat di borgol apakah Maruli ditelanjangi?, saksi menjawab setahunya tidak ada.

Nah saat kembali ditanya oleh Fadhly Roza apakah saksi pernah di BAP di Polsek?, dan apakah saksi sudah dijadikan tersangka?. Dengan nada pelan saksi menjawab pernah dan mengakui bahwa sudah jadi tersangka.

Saat dipertegas oleh Fadhly Roza apakah saksi sudah mengatahui SP3 dan sudah menerima surat?, saksi menjawab sudah pernah mendengar.”Pernah mendengar SP3, sudah SP3 katanya pak,” jelas saksi.

Saat ditanya Hakim berapakali saksi diperiksa di kantor Polisi?, saksi menjawab ada beberapa kali ada sebagai saksi dan ada sebagai tersangka.

Saksi juga menerangkan kepada Hakim kalau dirinya sudah pernah mengikuti gelar perkara.

Sementara di luar persidangan orang tua Maruli meminta kepada Hakim agar memberikan putusan yang adil.”Kami minta kepada Hakim berikanlah putusan yang adil,” harap Marolo Haro Rajagukguk didampingi istrinya Hetty.

Sebelumnya orang tua pelajar disalahsatu sekolah SMU di kota Medan ini mengajukan pra peradilan di Pengadilan Negeri Medan terhadap Polsek Deli Tua Medan dan Kejaksaan Negeri Medan.

Pra Peradilan ini diajukan karena Polsek Deli Tua dan Kejaksaan Negeri Medan menghentikan laporan polisi atas dugaan tindak pidana penganiayaan atau kekerasan terhadap anak di bawah umur,  yaitu korban anak pelajar SMU Swasta di Medan, padahal pelakunya sudah ditetapkan tersangka dalam perkara tersebut.

Menurut Hetty br. Simamora bahwa anaknya menjadi korban penganiayaan dan kekerasan di sekolahnya.

“Anak kami pelajar SMU korban penganiayaan dan kekerasan di sekolahnya, dimana anak kami diborgol dan disekap dan ditelanjangi oleh dua orang suster. Dengan alasan melakukan rehabilitasi tanpa seizin dan sepengetahuan kami selaku orang tua, dan pelakunya diduga dua orang suster yang telah ditetapkan tersangka tersebut,” kata Hetty.

Dugaan Tindak pidana penganiayaan dan kekerasan terhadap anak nya tersebut terjadi pada bulan Februari 2020 dan perkaranya sudah naik ke proses penyidikan (bukti visum et repertum dan saksi lengkap).

“Dan para suster tersebut sudah tersangka, namun Polsek Deli Tua Medan tanpa alasan jelas menghentikan perkara tersebut pada tanggal 12 Maret 2021. Menjadi pertanyaan bagi kami, ada apa dengan penyidik Polsek Deli Tua dan Kejaksaan Negeri Medan yang telah melakukan penghentian terhadap laporan yang sudah ada tersangkanya?. Maka saya sebagai orang tua nya akan berjuang mencari keadilan bagi anak kami korban kekerasan dan penyekapan selama 4 hari di panti rehabilitasi disekolah. Serta supaya kekerasan terhadap anak dalam dunia pendidikan di kota Medan tidak terjadi lagi. Makanya kami orang tua dari anak korban kekerasan mengajukan praperadilan di Pengadilan Negeri Medan,” terangnya.(ENC-NZ)

Komentar

Baca Juga